SiAmir Hot

ML . . . Penyita Waktu Mahasiswa

Pernahkah anda melihat story dari teman di WhatsApp, media sosial Facebook atau Instagram berupa sebuah gambar menunjukan seorang ksatria atau juga monster yang mereka sebut sebagai “hero” atau apalah, dengan mengenakan baju zirah lengkap beserta senjatanya, disertai tulisan klasik “Ayo tantang semua Player MOBA terbaik bersama!”? Sering? Berarti kita senasib. Atau jangan-jangan anda salah satu pelakunya?

Memang akhir-akhir ini pemandangan mata saya selain didzolimi dengan foto selfie dari ABG pengidap selfitis dan foto hasil makeover dari ibu-ibu yang seakan tak rela menerima kenyataan, semakin sering juga disuguhkan dengan gambar hasil share oleh sebuah aplikasi game yang sangat booming saat ini. COC? Bukan! Mungkin ada yang masih ingat game Clash of Clans (COC) yang beberapa waktu lalu sangat digandrungi oleh para pecinta game mobile (termasuk saya), tapi harus diakui bahwa saat ini masa jaya COC sudah berakhir. Jadi game yang saya maksudkan adalah game Mobile Legend atau ML, sebuah permainan berbasis mobile yang bagaimana cara bermainnya belum saya ketahui hingga sekarang, tapi yang jelas game ini tentu merupakan game yang sangat laris hingga detik ini (inet.detik.com). Saking larisnya, seperti yang telah saya paparkan di awal artikel, banyak sekali berseliweran gambar tentang game ML di media sosial terutama oleh teman-teman yang mayoritas adalah mahasiswa.

Berdasarkan hasil pemantauan dengan mata kepala sendiri, di area kampus sering ditemui mahasiswa yang sedang bermain game ML atau sekadar bercerita tentang pengalamannya bermain game tersebut. Tidak tangung-tangung, hal ini dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir yang seharusnya sedang berjibaku dengan skripsinya (yang merasa ayo angkat tangannya!). Di area kampus saja seperti itu, maka bisa dipastikan pada saat di rumah mayoritas waktu justru tercurah untuk bermain game ML. Jika kondisinya seperti ini, maka jelas bahwa akan berdampak pada terlambatnya pengerjaan tugas atau bahkan skripsi. Oleh karena itu sebelum memberi dampak yang besar, sebaiknya lakukan tindakan pencegahan. Mungkin cukup sulit atau bahkan cenderung tidak mungkin untuk berhenti total, tapi setidaknya bisa diminimalisir pengaruhnya dengan menekankan pada diri sendiri bahwa game bukanlah segala-galanya dan hanya sebagai hiburan semata di saat senggang. Jadi, harus mampu menentukan hal yang menjadi prioritas sebagai seorang mahasiswa yaitu belajar, mengerjakan tugas atau mengerjakan skrispsi. Jika memang sulit, maka dibutuhkan komitmen yang kuat misalnya dengan cara menghapus game tersebut dari smartphone. Mampu? (Fransiskus M. H. Tjiptabudi, S.Kom., M.M. | 2018-04-16)

KembaliTulis Berita