SiAmir Hot

Menjadi Diri Sendiri? Siapa Takut!

Saya menulis ini karena saat ini masih banyak orang yang salah penafsiran dalam memahami istilah “Menjadi Diri Sendiri”, mereka menggangap istilah ini sebagai penerimaan diri atas kekurangan dan kelebihan, namun tidak memikirkan upaya yang dapat dilakukan untuk membenahi kekurangan dan mempertahankan kelebihan dirinya tersebut.

Banyak kata yang terucap “Inilah Aku Apa Adanya!”, dengan penuh keyakinan dan tanpa ragu namun sudahkan anda berkaca terlebih dahulu dalam diri anda, apakah anda sudah seperti diri anda yang sesungguhnya, selain itu masih juga ada yang lebih suka menilai orang lain dengan hanya menilai dari tampilan luarnya saja. Kalau terlalu bergaya dibilang “sok” terlalu biasa dan ngak gaul dibilang “Ngak Hits’’, “Anak Mami”, atau bahkan menilai orang juga bisa melalui Mulutgram :D (Istilah dari salah seorang dosen saya maksudnya melalui gosip hehe). Tapi sudah sempurnakah diri kita sendiri sehingga kita layak mengurusi hidup orang lain?Bagaimana jika kemudian ada pertanyaan berikut, “Kalau kamu merasa sudah menjadi dirimu sendiri dan sudah begitu sempurna, lalu seperti apakah diri mu yang sekarang ini?” Sebuah pertanyaan yang tepat bukan? Dan apakah jawabanmu? Pertanyaan itu juga layak dilontarkan pada orang yang selalu berkata "ikut kata hati saja” setiap mengambil keputusannya. Namun tunggu dulu, hati yang akan diikuti itu dalam kondisi yang seperti apa? Kalau hati yang akan diikuti itu dipenuhi dengan hal buruk, maka dapat dipastikan hati tersebut akan mengarahkan pada hal buruk pula. Sebaliknya berbeda jika hati yang akan diikuti itu dalam kondisi yang sangat baik, maka arah yang akan sangat baik pula.

Dengan menjadi diri sendiri tanpa diikuti upaya mengintrospeksi diri sama saja hasilnya dengan nol, kamu belum memahami dirimu sendiri. Bagaimana mungkin hendak menjadi diri sendiri sementara kamu belum mengenal betul dirimu kalau saat ini kamu masih menggeluti beberapa karakter seperti berikut ini:

1) Masih mudah dipengaruhi. Contohnya: lihat teman yang suka clubbing, karaoke tiap hari kita juga terbawa pingin ikut-ikutan biar dibilang gaul, lihat teman minum mabok tidak bisa menahan diri untuk ikut serta.

2) Menganggap diri paling hebat. Orang dengan tipe seperti ini menganggap dirinya Dewa/Dewi, dia tidak peduli dengan orang lain atau hal sekitar dan selalu merasa dirinya dapat mengatasi segala hal padahal kenyataanya tidak. Contoh: ketika ujian “Aman saa sudah belajar semua nii masuk tu su master naa”. Tapi saat memasuki ruang ujian “We lu tuli ko? Nomer 1 jawaban apa ni?” (dialek Kupang) dan hal ini lumayan menganggu.

3) Takut tidak diperhatikan orang. Orang yang seperti ini tiap detik ganti foto profil di media sosialnya, paling cari perhatian (CAPER) baik dengan mahasiswa lain, serta dosen. Setiap kegalauan diri terpampang nyata di kronologi Facebook. Contohnya: Datang kampus sengaja pake celana ketat sampai perut (tidak tahu mau pamer apa). Berlarian di kampus kaget suara melengking keluar, Pas dosen kasi tugas bilang “Bisaa Ee” ma terakhir “Aiiii Paak eeew”

4) Tukang pamer. Ingat di atas langit masih ada langit loh, jadi kita ngak boleh sombong, biasa aja kali setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan tapi ada baiknya kita untuk saling melengkapi bukan saling menghina ataupun menilai yang satu dengan yang lainnya. Contohnya: beli hp baru pameer. Punya 100 pacar pamer semua (bangganya di mana coba)

5) Tidak mau dikritisi/merasa diri selalu benar. Kalau udah minta bantuan orang lain atau merasa diri kurang mampu, saat dibantu baiknya mendengarkan dan bertanya apabila ada yang tidak kamu mengerti bukannya berdebat. Contohnya: Minta bantu kerja tugas, begitu sampai di lokasi kerja tugas “Kwan, b buka FB dolo ee”, pas kawan jelaskan “Ahh itu salah tuu yang benar tu yang begini” (ngotot lagi) terakhir salah.

Menjadi diri sendiri memang penting, namun jika menjadi diri sendiri adalah yang gemar berfoya-foya dengan uang orang tua, itu jelas bukan dirimu. Jika menjadi diri sendiri adalah dengan memelihara kebiasaan gosip-menggosip, itu jelas akan merugikan orang lain. Kamu tidak perlu menginginkan menjadi artis, sementara bakatmu sebenarnya adalah menjadi olahragawan. Kamu tidak perlu begitu berambisi menjadi berkulit putih, sementara pada dasarnya kulitmu memang hitam. Kamu tidak perlu bermimpi menjadi orang Korea, sementara kenyataannya kamu adalah orang Kupang. Maka berhati-hatilah ketika kamu bilang ingin menjadi diri sendiri, sebab bisa jadi hal itu diajukan hanya dengan bertumpu pada kebiasaan burukmu saja tanpa membenahi diri ke jalan yang benar.

"Setiap manusia mempunyai kebebasan untuk memilih dari sisi mana dia ingin melihat dunia. Jadilah terang jangan di tempat yang terang saja, tetapi beranilah jadi terang di tempat yang gelap." (Glen Friedly) Selamat Belajar Mencintai dan membenahi diri sendiri (OLIVIA MARIA INACIO TAVARES | 2018-04-15)

KembaliTulis Berita