SiAmir Artikel Gregorius Rindu Iriane, S.Kom., M.T.

Sebuah Renungan: "Bagi Orang Benar Tuhan Bercahaya"

Terkadang dalam keseharian, kita sangat susah untuk membedakan sebuah kebenaran sehingga kita lebih banyak menolak datangnya cahaya, sebuah ilustrasi yang diceritakan oleh Romo Dino pada misa kedua Minggu 15 April 2018 Paroki Asumpta Kupang yakni; pada zaman dahulu, orang Yahudi sulit untuk membedakan kebenaran yang sesungguhnya sehingga mereka menolak datangnya cahaya kebenaran yakni Yesus Kristus itu sendiri. Dalam kotbahnya Romo Dino pun menambahkan ilustrasinya yakni dalam kehidupan sehari-haripun terkadang kita sulit membedakan kebenaran yang sesungguhnya. Mengapa demikian? Karena kita lebih mementingkan keegoisan kita, kita lebih mementingkan asumsi kita, kita lebih mementingkan pemahaman kita, kita lebih mementingkan kepentingan kita, tanpa mengetahui keadaan yang sesungguhnya, tanpa kita tahu sebab dan penyebab terjadinya sebuah akibat.

Contoh menarik yang diilustrasikan adalah seseorang yang kehilangan dompetnya karena dicuri oleh seorang tukang copet, lalu tukang copet itu malah berteriak bawah yang kehilangan dompetlah yang mencuri dompetnya sehingga orang yang kehilangan dompetpun digebukin oleh masa yang sesungguhnya tidak mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

Begitupun dalam kehidupan keseharian kita terkadang kita lebih mempercayai apa yang diceritakan oleh seseorang tanpa kita mengetahui seperti apa sesungguhnya yang terjadi. Terkadang kita lebih suka menyalahkan seseorang tanpa kita tahu kebenaran yang sesunggunya, kitapun seolah lebih mempercayai apa kata orang, tanpa kita mengkaji terlebih dahulu apa yang terjadi sesunguhnya.

Iliustrasi berikutya adalah ada seseorang yang menceritrakan dan menjek-jelekkan nama seseorang atau nama sahabatnya sendiri terkadang kita lansung mempercayainya tanpa kita mengenal lebih jauh tentang orang yang diceritakannya. Kebenaran adalah kejadian yang disaksikan dan dialami secara lansung tanpa melalui pengentara. Kebenaran juga identik dengan suara hati atau suara nurani atau suara dari Tuhan. Oleh karena itu untuk bisa menerima cahaya kebenaran, kita harus membuka diri. Membuka diri yang dimaksudkan di sini adalah kita harus bisa merendah diri, siap menerima kritikan, siap menerima masukan, tidak egois, tidak malu bertanya dan tidak membedakan satu dan yang lainnya, karena bagi orang benar Tuhan bercahaya. (Gregorius Rindu Iriane, S.Kom., M.T. | 2018-04-15)

Kembali Tulis Berita