SiAmir Artikel Gregorius Rinduh Iriane

Memilih dengan Hati untuk NTT

Di berbagai media massa akhir-akhir ini selalu menyuarakan ajakan tentang bagaimana berpolitik dan bagaimana seharusnya kita memilih figur seorang pemimpin yang bakal mengemban aspirasi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), berita ataupun aspirasi yang disampaikan ini memiliki tujuan yang sama, menyeruhkan kriteria pemimpin yang layak dipilih. Kriteria layak pilih itu pun nyaris sama yaitu pemimpin yang mau memperjuangkan dan menjadikan NTT sejahtera, bebas dari kemiskinan dan mengajak rakyat NTT memilih dengan hati. Memilih dengan hati. Tampaknya ini merupakan ajakan bijak. Memilih dengan hati, mungkin dimaksudkan sebagai perwujudan sebuah tindakan sungguh-sungguh, dan tidak semata-mata merupakan tindakan yang dihasilkan dari proses sembrono dan terburu-buru. Memilih dengan hati kadang dikaitkan dengan suara hati nurani, atau ‘hati kecil’. Banyak orang percaya suara hati adalah suara paling benar dan murni karena belum tercampur oleh pemikiran-pemikiran lain atau bujukan-bujukan dari luar hati. Tetapi apakah yang sebenarnya dimaksud dengan hati Hati=Perasaan=Emosi? Hati sering diikuti dengan kata ‘nurani’. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, hati nurani diartikan sebagai cahaya dari Tuhan. Oleh karena itu, hati nurani bersifat keilahian dan benar, dan dapat menjadikan tuntunan untuk dilakukan atau tidak dilakukan. Hati dalam konteks ilmu sosial, termasuk dalam konteks Pilkada, bisa jadi dapat dikaitkan dengan perasaan, sebagai lawan dari pikiran atau juga rasionalitas. Perasaan dapat diasosiasikan dengan emosi, dimensi dari sikap, yang merujuk pada dorongan internal untuk bertindak, yang melibatkan dimensi “suka-tidak suka”, “baik-buruk,” atau “indah-tidak indah”. Ini merupakan evaluasi atas suatu objek pengamatan, tetapi tidak menggunakan logika dan tolok ukur yang pasti. Sehingga, evaluasi ini sering lebih bersifat subjektif, situasional dan dinamis. Jadi kata “memilih dengan hati” dapat diartikan tindakan memilih didasarkan pada perasaan atas objek atau evaluasi atas objek yang bersifat subjektif dan situasional. Evaluasi mudah berubah ketika pengalaman atau suasana diri dan situasi lingkungan berubah. Jika demikian pemaknaannya, tepatkah dalam pemilu mendatang, kita memilih dengan hati? Jika seseorang memilih karena dia menyukai, dan dia menyukai karena sosok yang dipilih atau Cagub yang dipilih itu menawan, maka ini merupakan pilihan hati. Tidak ada yang salah jika sebagian dari kita memilih Cagub karena penampilannya menawan. Namun perlu diingat bahwa tindakan ini sangat rentan terhadap perubahan. Daya tarik fisik itu sangat rapuh, mudah tergerus waktu. Maka ketika daya tarik Cagub mulai menurun, bisa jadi kita akan berubah perasaan, tidak lagi menyukai Cagub yang sebelumnya sudah kita sukai. Dan, ketika sudah tidak menyukai lagi, maka cenderung akan menilai atau mengamati apa yang dilakukan sang pemimpin dalam ‘frame’ negatif. Maka, bukan tidak mungkin, pemilih menyesal atau kecewa di kemudian hari serta memutuskan memilih sosok lain pada periode pemilihan berikutnya. Penampilan fisik hanyalah salah satu dari sekian aspek yang dapat menyentuh hati. Jadi, jika calon pemimpin mengandalkan penampilan diri dan mempengaruhi keputusan pemilih dengan pendekatan “sentuhan hati dan emosi”, maka bersiap-siaplah menghadapi penurunan “loyalitas” atau kehilangan “suara” serta kepercayaan dari pengikutnya, bahkan dalam waktu yang amat pendek. Jadi, bagaimanakah mendapat pengikut yang loyal? Kampanye seperti apakah yang tepat? Jawabannya ada pada Cagub masing-masing. Salom....Ayo Melilih dengan HATI. (Gregorius Rinduh Iriane | 2018-04-08)

Kembali Tulis Berita